Senin, 11 Oktober 2010

teknologi telkom

http://mandorkawat2009.wordpress.com/2009/10/19/

Kamis, 15 April 2010

email tracert....IP tracker

http://www.ip-adress.com/ip_tracer/125.163.16.1

Rabu, 14 April 2010

Seting Modem ????

http://www.speedyfun.co.cc/2009/03/error-797-connection-failed-because.html (* settingan Modem Uuuuyyy)

Selasa, 06 April 2010

opensource

http://opensource.telkomspeedy.com/forum/viewtopic.php?id=202

Selasa, 30 Maret 2010

setting modem SIEMENS

Setting Modem ADSL

Posting dibawah ini diambil dari server internal untuk kemudahan bagi gue kalo lagi pas gak di kerjaan.

Pengenalan Type Koneksi ADSL Secara Umum

Saat ini koneksi ADSL (Asymmetric Data Subscriber Line) terbagi ke dalam 3(tiga) type sesuai dengan perangkat dan vendor yang digunakan oleh PT. Telkom, yaitu:

Siemens
Alcatel
Huawei

1. Siemens
Pada awal pertama kali sistem koneksi yang diberlakukan oleh Telkom yaitu secara sentralisasi, artinya setiap aktivasi pelanggan dilakukan oleh Telkom dengan parameter setting standard pada modem sbb:
- Encapsulation: RFC 1483
- Multiplexing: LLC-based
- VPI: 1
- VCI: 33
- Ip Address: [diinput manual / statik sesuai dengan pemberian dari indonet]
Seiring dengan berkembangnya produk ADSL sehingga banyak pelanggan individu maupun corporate, maka aktivasi tidak lagi dilakukan sentralisasi oleh Telkom melainkan langsung oleh ISP dengan sistem “IP Radius”. Dengan adanya perubahan tersebut mengakibatkan perubahan pula pada setting standard, sbb:
- Encapsulation: PPPoA
- Multiplexing: VC-based
- VPI: 1
- VCI: 33
- Ip Address: [otomatis, sesuai dengan alokasi Ip yang diberikan oleh indonet]
Kode penomoran ADSL Siemens dapat diketahui pada digit ke-7 berupa angka “0” (nol), misal: 121xxx0xxxx@indo.net.id

2. Alcatel
Adalah vendor ke-2 yang melakukan kerjasama dengan Telkom, berikut setting standard ADSL Alcatel:
- Encapsulation: PPPoA
- Multiplexing: LLC-based
- VPI: 8
- VCI: 35
- Ip Address: [otomatis, sesuai dengan alokasi Ip yang diberikan oleh indonet]
Kode penomoran ADSL Alcatel dapat diketahui pada digit ke-7 berupa angka “1” (satu), misal: 121xxx1xxxx@indo.net.id

3. Huawei
Adalah vendor ke-3 yang melakukan kerjasama dengan Telkom, berikut setting standard ADSL Huawei:
- Encapsulation: PPPoE
- Multiplexing: LLC-based
- VPI: 0
- VCI: 35
- Ip Address: [otomatis, sesuai dengan alokasi Ip yang diberikan oleh indonet]

A. Jenis Modem ADSL
Jenis modem ADSL, brand atau type yang beredar saat ini cukup banyak namun pada dasarnya untuk melakukan setting / konfigurasi modem hanya terbagi 2(dua), yaitu: melalui Browser dan Telnet. Berikut brand modem yang banyak digunakan oleh pelanggan Indonet :
1. Alcatel Thompson
2. Allied Tellesyn (236E atau 240E)
3. Aztec (DSL305 atau DSL600)
4. Conexant
5. CTC
6. Dareglobal
7. Enzer
8. Linksys
9. Prolink Hurricane (8800 atau 9000)
10. Radikom
11. SMC BRA (7804 atau 7904)
12. Speedstream (4000 Series atau 6500)
13. Vigor
14. Zyxel / Zyxel Huawei

B. Jenis Konfigurasi Pada Modem ADSL

Berikut beberapa konfigurasi yang bisa dilakukan pada modem ADSL:
1. Standard setting koneksi
Merupakan konfigurasi tahap pertama yang harus dilakukan agar dapat koneksi ke internet.Setiap modem ADSL memiliki alamat Ip tersendiri yang merupakan default dari vendor. Ip ini harus diketahui agar mempermudah dalam melakukan konfigurasi, sebagai contoh Ip yang dimiliki adalah 192.168.1.1 (sesuai dengan manual book pada pembelian modem). Selanjutnya kita akan memulai setting terhadap modem tersebut, berikut langkah-langkahnya:
a. Hubungkan modem ADSL ke komputer menggunakan kabel LAN
b. Samakan kelas Ip komputer dengan modem, misal Ip komputer dibuat 192.168.1.2 dan gateway diarahkan ke Ip modem yaitu 192.168.1.1

tcp-ip1.gif
c. Klik OK
d. Untuk memastikan bahwa komputer telah terhubung dengan modem, lakukan ping ke Ip modem 192.168.1.1 melalui command prompt
e. Jika terlihat “Reply from….” maka komputer telah tersambung ke modem dengan baik
f. Selanjutnya lakukan setting parameter standard sesuai dengan alokasi yang telah ditentukan untuk pelanggan,

Topologi standard:

standar-topologi1.gif

2. NAT/ NAPT/ Port Forwarding
Merupakan advanced setting yang dapat dimaksimalkan sesuai dengan kemampuan dan fitur yang ada pada modem. Untuk konfigurasi NAT maupun NAPT pastikan server yang dituju terkoneksi tepat setelah atau di belakang modem ADSL. IP server yang dituju harus 1 kelas dengan IP LAN modem ADSL dan server dapat melakukan koneksi internet secara normal. Fitur ini bisa digunakan jika pelanggan memiliki satu atau beberapa server yang ingin di publish.

a. Setting NAT
NAT (Network Address Translation) atau IP aliasing bertujuan untuk membuat alias dari suatu IP Private atau IP lokal jaringan ke IP Public yang dikenal di Internet. Hal ini dilakukan agar server yang menggunakan Ip lokal dapat di kenal di Internet tanpa harus merubah bentuk jaringan yang ada dan tanpa tambahan Ip Lan, sehingga server dan client terdapat pada jaringan yang sama. Setting ini bisa digunakan untuk efisiensi penggunaan Ip Lan atau bagi pelanggan yang tidak memiliki Ip Lan

Topologi:

topologi-nat.gif

b. Setting NAPT / Port Forwarding

NAPT (Network Address port Translation) atau Port aliasing sering juga di sebut sebagai Port Forwarding atau Virtual Server tujuannya adalah membuat alias dari IP Private atau IP lokal jaringan ke dalam satu port pada IP Public yang dikenal di Internet agar server pada local jaringan dapat publish tanpa harus merubah bentuk jaringan yang ada. Dengan demikian penggunaan IP Public dapat di hemat karena untuk beberapa server (yang tidak menggunakan port yang sama) dapat menggunakan 1 IP Public serta server dan client terdapat pada jaringan yang sama

Topologi

topologi-napt.gif

3. VPN

VPN (Virtual Private Networking), adalah jaringan pribadi yang secure (aman), yang menggunakan atau melalui medium koneksi umum (misalnya Internet), hal ini biasanya di gunakan agar koneksi atau komunikasi data yang di lakukan tidak mudah di sadap dan dalam aplikasinya menggunakan pembatasan IP access dan password, namun di karenakan VPN menuntut koneksi 2 arah yang sama (symetris), maka tidak di anjurkan ADSL di lalui oleh VPN.

Topology

topologi-vpn.gif

4. SNMP

Fitur ini bisa diaktfikan untuk membuatkan traffic MRTG (Multi Router Traffic Grapher) pemakaian koneksi ADSL

5. LAN Ip Usage

Dapat diaplikasikan jika pelanggan ingin menggunakan Server dengan IP Public langsung tanpa adanya aliasing IP ataupun port, hal ini di perlukan karena tidak jarang suatu server atau aplikasi tidak support dengan IP aliasing, kekurangannya adalah server yang di gunakan tidak dapat diaplikasikan dalam 1(satu) jaringan yang sama dengan jaringan client

topologi

lan-ip-usage.gif

6. DMZ

DMZ (Demilitarized Zone) berfungsi hampir sama dengan port forwarding/virtual server namun untuk DMZ memiliki resiko yang lebih tinggi karena akan membuka semua public port (fungsi ini bisa diaktifkan sebagai pilihan terakhir).

10 Responses

  1. kalau mau setting indonet di outlook express, gimana ya , kali bisa bantu terima kasih

  2. Dear Hasmy,
    Untuk setting email account indonet di outlook express adalah sbb :
    1. Buka outlook express,lalu ke menu ‘tools’, klik ‘accounts’
    2. Muncul jendela ‘internet accounts’. Klik tombol add, lalu klik mail.
    3. Setting email,silahkan diisi display name, lalu email address di indonet.
    4. Setelah itu muncul jendela baru lagi ‘internet connection wizard’. Isi ‘my incoming mail server’ dengan POP3 server. Kemudian isi incoming mail : pop.indo.net.id
    outgoing mail : smtp.indo.net.id (atau disesuaikan dengan koneksi internet yang digunakan). Klik ‘next’.
    5. isi account name (alamat email indonet sebelum @indo.net.id biasanya menjadi account name), lalu isi password. Uncheck ‘remember my password’ untuk security.
    6. Selesai.

    Silahkan dicoba.

Kamis, 25 Maret 2010

solusi error 720 speedy

http://infoawenk.blogspot.com/2009/04/solusi-error-720-pada-koneksi-speedy.html

mengatasi error 720...koneksi speedy

http://infoawenk.blogspot.com/2009/04/solusi-error-720-pada-koneksi-speedy.html

Selasa, 05 Januari 2010

Load Balancing Dual DSL Speedy di Satu Router

Banyak pertanyaan dari teman-teman, terutama para operator warnet, admin jaringan sekolah/kampus dan korporasi tentang load balancing dua atau lebih koneksi internet. Cara praktikal sebenarnya banyak dijumpai jika kita cari di internet, namun banyak yang merasa kesulitan pada saat diintegrasikan. Penyebab utamanya adalah karena kurang mengerti konsep jaringan, baik di layer 2 atau di layer 3 protokol TCP/IP. Dan umumnya dual koneksi, atau multihome lebih banyak diimplementasikan dalam protokol BGP. Protokol routing kelas ISP ke atas, bukan protokol yang dioprek-oprek di warnet atau jaringan kecil.

Berikut beberapa konsep dasar yang sering memusingkan:

1. Unicast
Protokol dalam trafik internet yang terbanyak adalah TCP, sebuah komunikasi antar host di internet (praktiknya adalah client-server, misal browser anda adalah client maka google adalah server). Trafik ini bersifat dua arah, client melakukan inisiasi koneksi dan server akan membalas inisiasi koneksi tersebut, dan terjadilah TCP session (SYN dan ACK).

2. Destination-address
Dalam jaringan IP kita mengenal router, sebuah persimpangan antara network address dengan network address yang lainnya. Makin menjauh dari pengguna persimpangan itu sangat banyak, router-lah yang mengatur semua trafik tersebut. Jika dianalogikan dengan persimpangan di jalan, maka rambu penunjuk jalan adalah routing table. Penunjuk jalan atau routing table mengabaikan “anda datang dari mana”, cukup dengan “anda mau ke mana” dan anda akan diarahkan ke jalan tepat. Karena konsep inilah saat kita memasang table routing cukup dengan dua parameter, yaitu network address dan gateway saja.

3. Source-address
Source-address adalah alamat IP kita saat melakukan koneksi, saat paket menuju ke internet paket akan melewati router-router ISP, upstream provider, backbone internet dst hingga sampai ke tujuan (SYN). Selanjutnya server akan membalas koneksi (ACK) sebaliknya hingga kembali ke komputer kita. Saat server membalas koneksi namun ada gangguan saat menuju network kita (atau ISPnya) maka komputer kita sama sekali tidak akan mendeteksi adanya koneksi. Seolah-olah putus total, walaupun kemungkinan besar putusnya koneksi hanya satu arah.

4. Default gateway
Saat sebuah router mempunyai beberapa interface (seperti persimpangan, ada simpang tiga, simpang empat dan simpang lima) maka tabel routing otomatis akan bertambah, namun default router atau default gateway hanya bisa satu. Fungsinya adalah mengarahkan paket ke network address yang tidak ada dalam tabel routing (network address 0.0.0.0/0).

5. Dua koneksi
Permasalahan umumnya muncul di sini, saat sebuah router mempunyai dua koneksi ke internet (sama atau berbeda ISP-nya). Default gateway di router tetap hanya bisa satu, ditambah pun yang bekerja tetap hanya satu. Jadi misal router NAT anda terhubung ke ISP A melalui interface A dan gateway A dan ke ISP B melalui interface B dan gateway B, dan default gateway ke ISP A, maka trafik downlink hanya akan datang dari ISP A saja. Begitu juga sebaliknya jika dipasang default gateway ke ISP B.

Bagaimana menyelesaikan permasalahan tersebut?
Konsep utamanya adalah source-address routing. Source-address routing ibaratnya anda dicegat di persimpangan oleh polisi dan polisi menanyakan “anda dari mana?” dan anda akan ditunjukkan ke jalur yang tepat.

Pada router NAT (atau router pada umumnya), source-address secara default tidak dibaca, tidak dipertimbangkan. Jadi pada kasus di atas karena default gateway ke ISP A maka NAT akan meneruskan paket sebagai paket yang pergi dari IP address interface A (yang otomatis akan mendapat downlink dari ISP A ke interface A dan diteruskan ke jaringan dalam).

Dalam jaringan yang lebih besar (bukan NAT), source-address yang melewati network lain disebut sebagai transit (di-handle dengan protokol BGP oleh ISP). Contoh praktis misalnya anda membeli bandwidth yang turun dari satelit melalui DVB, namun koneksi uplink menggunakan jalur terestrial (dial-up, leased-line atau fixed-wireless). Dalam kasus ini paket inisiasi koneksi harus menjadi source-address network downlink DVB, agar bandwidth downlink dari internet mengarah DVB receiver, bukan ke jalur terestrial.

Di lingkungan Linux, pengaturan source-address bisa dilakukan oleh iproute2. Iproute2 akan bekerja sebelum diteruskan ke table routing. Misal kita mengatur dua segmen LAN internal agar satu segmen menjadi source-address A dan satu segmen lainnya menjadi source-address B, agar kedua koneksi ke ISP terutilisasi bersamaan.

Penerapan utilisasi dua koneksi tersebut bisa mengambil tiga konsep, yaitu round-robin, loadbalance atau failover.

6. Round-robin
Misalkan anda mempunyai tiga koneksi internet di satu router NAT, koneksi pertama di sebut Batman, koneksi kedua disebut Baskin dan koneksi ketiga disebut Williams, maka konsep round-robin adalah sang Robin akan selalu berpindah-pindah secara berurutan mengambil source-address (bukan random). Misal ada satu TCP session dari komputer di jaringan internal, maka koneksi TCP tersebut tetap di source-address pertama hingga sesi TCP selesai (menjadi Batman & Robin). Saat TCP session Batman & Robin tersebut belum selesai, ada ada request koneksi baru dari jaringan, maka sang Robin akan mengambil source-address koneksi berikutnya, menjadi Baskin & Robin. Dan seterusnya sang Robin akan me-round-round setiap koneksi tanpa memperhatikan penuh atau tidaknya salah satu koneksi.

Pasti anda sedang pusing membaca kalimat di atas, atau sedang tertawa terbahak-bahak.

7. Loadbalance
Konsep loadbalance mirip dengan konsep round-robin di atas, hanya saja sang Robin dipaksa melihat utilisasi ketiga koneksi tersebut di atas. Misalkan koneksi Batman & Robin serta Baskin & Robin sudah penuh, maka koneksi yang dipilih yang lebih kosong, dan koneksi yang diambil menjadi Robin Williams. Request koneksi berikutnya kembali sang Robin harus melihat dulu utilisasi koneksi yang ada, apakah ia harus menjadi Batman & Robin, Baskin & Robin atau Robin Williams, agar semua utilisasi koneksi seimbang, balance.

8. Failover
Konsep fail-over bisa disebut sebagai backup otomatis. Misalkan kapasitas link terbesar adalah link Batman, dan link Baskin lebih kecil. Kedua koneksi tersebut terpasang online, namun koneksi tetap di satu link Batman & Robin, sehingga pada saat link Batman jatuh koneksi akan berpindah otomatis ke link Baskin, menjadi Baskin & Robin hingga link Batman up kembali.

*makan es krim Haagendaz dulu*

Tools NAT yang mempunyai ketiga fitur di atas adalah Packet Firewall (PF) di lingkungan BSD, disebut dengan nat pool. Saya belum menemukan implementasi yang bagus (dan cukup mudah) di Linux dengan iproute2.

*Uraian panjang di atas hanyalah kata sambutan sodara-sodara…*

Berikut contoh implementasi load balance dua koneksi sesuai judul di atas. Dijalankan di mesin OpenBSD sebagai NAT router dengan dua koneksi DSL Telkom, interface ethernet sk0 dan sk1.

1. Aktifkan forwarding di /etc/sysctl.conf

net.inet.ip.forwarding=1

2. Pastikan konfigurasi interface dan default routing kosong, hanya filename saja

# /etc/hosts.sk0

# /etc/hosts.sk1
# /etc/hostname.sk0
# /etc/hostname.sk1
# /etc/mygate

Script koneksi DSL Speedy, pppoe0 untuk koneksi pertama dan pppoe1 untuk koneksi kedua. Sesuaikan interface, username dan passwordnya. Jangan lupa, gunakan indent tab.

# /etc/ppp/ppp.conf

default:
set log Phase Chat LCP IPCP CCP tun command
set redial 15 0
set reconnect 15 10000
pppoe0:
set device "!/usr/sbin/pppoe -i sk0"
disable acfcomp protocomp
deny acfcomp
set mtu max 1492
set mru max 1492
set crtscts off
set speed sync
enable lqr
set lqrperiod 5
set cd 5
set dial
set login
set timeout 0
set authname blahblahblah@telkom.net
set authkey asaljangandejek
add! default HISADDR
enable dns
enable mssfixup
pppoe1:
set device "!/usr/sbin/pppoe -i sk1"
disable acfcomp protocomp
deny acfcomp
set mtu max 1492
set mru max 1492
set crtscts off
set speed sync
enable lqr
set lqrperiod 5
set cd 5
set dial
set login
set timeout 0
set authname blahblahblah2@telkom.net
set authkey vikingboneksamasaja
add! default HISADDR
enable dns
enable mssfixup

3. Aktifkan interface sk0 dan sk1

# ifconfig sk0 up

# ifconfig sk1 up

4. Jalankan PPPoE, Point to Point Protocol over Ethernet.

# ppp -ddial pppoe0

# ppp -ddial pppoe1

5. Jika koneksi Speedy berhasil, IP address dari Speedy akan di-binding di interface tunneling tun0 dan tun1

# ifconfig

tun0: flags=8051 mtu 1492
groups: tun egress
inet 125.xxx.xxx.113 --> 125.163.72.1 netmask 0xffffffff
tun1: flags=8051
mtu 1492
groups: tun
inet 125.xxx.xxx.114 --> 125.163.72.1 netmask 0xffffffff

6. Dan default gateway akan aktif

# netstat -nr |more

Routing tables
Internet:
Destination Gateway Flags Refs Use Mtu Interface
default 125.163.72.1 UGS 7 17529 - tun0

7. Serta konfigurasi resolver DNS pun akan terisi

# cat /etc/resolv.conf

lookup file bind
nameserver 202.134.2.5
nameserver 203.130.196.5

8. Aktifkan Packet Firewall pf

# /etc/rc.conf

pf=”YES”

9. Script Packet Firewall NAT dan balancing dengan round-robin (ganti round-robin dengan loadbalance jika lebih sesuai dengan kebutuhan anda). Baris yang di-indent masih termasuk baris di atasnya. Entah kenapa tag

 malah menghilangkan karakter backslash (\).

# /etc/pf.conf

lan_net = "10.0.0.0/8"
int_if = "vr0"
ext_if1 = "tun0"
ext_if2 = "tun1"
ext_gw1 = "125.163.72.1"
ext_gw2 = "125.163.72.1"
# scrub all
scrub in all
# nat outgoing connections on each internet interface
nat on $ext_if1 from $lan_net to any -> ($ext_if1)
nat on $ext_if2 from $lan_net to any -> ($ext_if2)
# pass all outgoing packets on internal interface
pass out on $int_if from any to $lan_net
# pass in quick any packets destined for the gateway itself
pass in quick on $int_if from $lan_net to $int_if
# load balance outgoing tcp traffic from internal network.
pass in on $int_if route-to \
{ ($ext_if1 $ext_gw1), ($ext_if2 $ext_gw2) } round-robin \
proto tcp from $lan_net to any flags S/SA modulate state
# load balance outgoing udp and icmp traffic from internal network
pass in on $int_if route-to \
{ ($ext_if1 $ext_gw1), ($ext_if2 $ext_gw2) } round-robin \
proto { udp, icmp } from $lan_net to any keep state
# general "pass out" rules for external interfaces
pass out on $ext_if1 proto tcp from any to any flags S/SA modulate state
pass out on $ext_if1 proto { udp, icmp } from any to any keep state
pass out on $ext_if2 proto tcp from any to any flags S/SA modulate state
pass out on $ext_if2 proto { udp, icmp } from any to any keep state

10. Aktifkan script yang diperlukan di /etc/rc.local agar setiap reboot langsung bekerja.

ifconfig sk0 up

ifconfig sk1 up
# aktifkan speedy
ppp -ddial pppoe0
ppp -ddial pppoe1

PF akan langsung bekerja membaca /etc/pf.conf.
Jika harus me-restart koneksi DSL Speedy, pastikan pppoe dimatikan dulu

# pkill ppp

Jika tidak, maka ppp akan membuat tunneling baru menjadi tun2, tun3 dan seterusnya.

11. Untuk memantau fungsi nat pool round-robin di atas bekerja atau tidak, bisa menggunakan tools pftop yang bisa diambil di http://www.eee.metu.edu.tr/~canacar/pftop/

Jika anda mengoptimasikan koneksi jaringan juga dengan menggunakan proxy, misalnya Squid, maka proxy Squid jangan dipasang juga di mesin router NAT tersebut, sebab saat Squid mengakses halaman web ke internet; oleh PF dianggap bukan sebagai koneksi NAT, jadi tidak akan di-balance, dan akan stay mengambil interface utama dan default gateway pertama. Simpanlah mesin proxy/squid di belakang router NAT, agar koneksi proxy ke internet menjadi trafik NAT yang akan di-balance oleh script PF di atas.

Jumat, 17 April 2009

GDMT ADSL (ITU G.992.1/G.992.2) Asymmetrical 6.4 Mbps DSL





GDMT Features:
· G.DMT has the option to allow for data transmission using bit serial synchronous transfer mode (STM) as an
alternative to ATM cell transport. ATM, and its associated ATM adaptation layers (AAL0, AAL1, AAL2,
AAL3/4, and AAL5), allows all types of traffic to be carried. The different AAL mechanisms permit the
delivery of real-time and non-real-time video, and the transport of Internet Protocol (IP) traffic, using the
point-to-point protocol (PPP) over ATM over ADSL protocol stacks. Designating ATM as the transport
mechanism ensures the robustness of G.DMT.
· ATU-R transmission of timing, synchronized to the ATU-C, is the classic method of timing a network.
· GDMT supports four framing structures. The ATU-C negotiates which framing structure to use with the ATUR
during activation, and sets itself to the reported framing structure accordingly.
· Transport of Network timing Reference (NTR). G.DMT has the capability of transport the NTR from the CO
side to the CPE side.
· G.DMT can transport two latency paths, allowing different applications, performance and robustness
services.
· Optional TCM as a combination of convolutional coding and QAM. The redundancy of convolutional coding requires more states in the TCM QAM constellation than with QAM alone. TCM uses an encoding scheme similar to the one used for QAM, but adds extra bits for its error correction work. If trellis coding had been selected on the transmit side, the data would pass through the Viterbi decoder on the receive side. The Viterbi algorithm for decoding uses the structure of the trellis (the allowable transitions) and the input data to determine the most likely path through the trellis. VOCAL G.DMT support Trellis and Viterbi.Implementations: · Full Software Implementation. Figure 2 shows the task partition for the receiver (RX) and the Transmitter

(TX) for the case of all software implementation.







Figure 2. GDMT task partition for full software implementation
· Software with hardware acceleration Implementation. The hardware implementation of the TEQ needs
32 taps for the scalar transversal filter in 16 points fixed point arithmetic in a 2.208 MHz clock frequency.
This implementation is easy using serial multipliers with a low cost and low risk.
· Full hardware Implementation. Hardware implementation of the TEQ needs 32 taps for the
scalar transversal filter in 16 points fixed point arithmetic in a 2.208 MHz clock frequency. This
implementation is easy using serial multipliers with a low cost and low risk. Hardware
implementation of the 512 points real, 64 points complex FFTs is in 16 points fixed point
arithmetic with a 2.208 MHz clock frequency using efficient Radix 8 with serial multipliers with a
low cost and is available as a core from many vendors. Hardware implementation of the Reed-
Solomon decoder uses the Berlekamp-Massey decoder with a standalone syndrome calculation. the
algorithm uses a log domain table look-ups to implement the GF(256) multiplies with a low cost and is
available as a core from many vendors

Kamis, 16 April 2009

07IPTV : Layanan Televisi Masa Depan

IPTV dan VOD, saat ini menjadi layanan baru, yang di banyak negara diluncurkan oleh Telco's (pemain
tradisionil penyedia telekomunikasi di bidang telekomunikasi. Layanan ini mulai memasuki pasar dan
berkompetisi dengan layanan TV standar yang dipancarkan melalui satelite, terestrial, dan kabel.
Besar lintasan data (bandwidth) jaringan broadband yang terus meningkat, makin canggihnya teknologi
kompresi, dan arsitektur distribusi baru membuat penyediaan layanan IPTV/VOD secara teknik
memungkinkan. Secara signifikan, pasar juga terus membutuhkan pasokan konten-konten digital yang lebih
banyak.
Disinilah Telco's dapat mulai mencari kemungkinan pertumbuhan baru, sebagai ganti dari sudah stagnannya
pertumbuhan pendapatan dari layanan telpon tradisional. Secara bersamaan, Telco's mendapatkan ancaman
dari penyedia jasa berbasis kabel konvensional dan mulai masukknya perusahaan-perusahaan energi ke
bisnis data melalui jaringan distribusi energinya (contoh: PLN yang mulai ikut bermain di bisnis internet).
Komponen-komponennya IPTV/VoD
Internet-Protocol Television (IPTV) adalah penyediaan layanan streaming tv secara langsung via jaringan IP
berbandwitdh lebar. Layanan ini bersifat multicast, dari satu sumber untuk banyak pengakses secara
bersamaan. Video on Demand (VoD) adalah penyediaan layanan video yang diminta secara khusus oleh
pengakses. Secara umum ini adalah layanan video streaming unicast, yang dideliver ke satu pelanggan.
IPTV dan VoD keduanya masuk kategori layanan berkualitas siaran TV. Artinya pelanggan akan menikmati
layanan sekualitas TV satelit dan kabel yang sekarang umum kita nikmati. Standar siaran TV ini saat ini
hanya bisa dilayani oleh provider berbasis satelit dan kabel dalam group tertutup. Internet IPTV dan internet
VoD yang merupakan implementasi awal dari kedua layanan diatas, kualitasnya belum layak disandingkan
dengan kualitas siaran TV.
Jenis-jenis Servis IPTV/VoD
IPTV/VoD tidak hanya menyediakan jasa video, beberapa servisnya meliputi:
Servis TV, video yang dipancarkan dalam waktu yang terjadwal, persis layanan TV konvensional.
Pengembangan servis ini, bisa dengan membuat kanal-kanal yang khusus, misalnya, khusus
memasak, khusus olahraga dll. Service VoD, Video yang dihantarkan ke pelanggan sesuai pilihan mereka.
Personal Video Recorder (PVR), Alat perekam yang akan merekam siaran untuk diputar dilain waktu.
Network Personal Video Recorder (NPVR), versi jaringan dari PVR, NPVR tidak mesti ditempatkan di rumah
pelanggan. Electronic Program Guide (EPG), layanan yang memberikan info program-program eksisting dan
program-program kedepan dari layanan.
1/3
Information Services, layanan bersifat informasi, berita, laporan cuaca dll. Interactive TV, TV Show, dimana
pelanggan bisa interaktiv. Interactive Applications, permainan yang dapat dideliver dengan mode broadcast,
namun memanfaatkan kelebihan sifat interaktifnya. Permainan dapat berupa singleplayer atau mulitplayer
antar pelanggan. Broadband Applications, video conferencing, e-Learning, dan security monitoring.
Keuntungan Implementasi IPTV
Penyediaan jasa IPTV menggunakan IP network berimplikasi positif pada efisiensi penggunaan jaringan.
Jaringan IP, trafiknya dapat diatur sedemikian rupa, sehingga beberapa jenis paket bundling bisa
dilewatkankan di atasnya. Selain itu terdapat kelebihan yang secara signifikan membedakan dari TV
konvensional adalah, dapat disediakannya layanan yang bersifat interaktif seperti misalnya Video on
Demand, ketimbang siaran TV lama yang lebih bersifat broadcast satu arah saja.
Sebagaimana disampaikan di atas, dasar dari layanan IPTV adalah triple play, dimana data video, audio,
dan data dipertukarkan didalam jaringan tempat layanan di deliver. Berikut adalah tahapan dari transformasi
yang mesti dilakukan untuk mempersiapkan support arsitektur jaringan untuk layanan IPTV.
Dari Teknologi ATM ke IP
Backbone (jalur data) lokal dan link intrnasional memegang peranan penting dalam delivery layanan
broadband khususnya IPTV, strategi yang dapat dilakukan pada sisi ini adalah :
Pertama, upgrade ATM DSLAM ke IP DSLAM, yang menghasilkan jaringan yang lebih scalable. Kedua,
merubah pola koneksi yang komplek menjadi sederhana, misalnya dengan membuat Zero Configuration di
sisi pelanggan. Ketiga, melakukan distribusi Node-Node broadband, misalnya BRAS, agar pelanggan akhir
mendapatkan akses terdekat ke network provider. Keempat, memperbesar resource-resource network,
membangun high speed backbone misalnya, agar tidak terjadi bottle neck di jaringan penyedia layanan.
Penyiapan infrastruktur broadband
Terdapat beberapa bagian terintegrasi yang memungkinkan terselenggaranya layanan IPTV:
Pertama, universal broadband access, bagian paling dekat ke sisi pelanggan ini menuntut update yang
cepat dalah hal teknologi dan kemudahan delivery. Upgrade teknologi pendukung layanan. Kebanyakan
layanan broadband saat ini di dukung tekonologi Lite DSL yang merupakan seri pertama dari teknologi
broadband berbasis DSL(Digital Subscriber Line). Untuk ke depan, paling tidak teknologi pendukungnya
harus dapat mensupport ADSL2 dan VDSL, agar layanan-layanan audio-video, dapat di deliver ke
pelanggan.
Kedua, data aware transport, bagian ini harus dibangun dengan perspektiv penjagaan kualitas terhadap data
yang disalurkan. IPTV adalah layanan dengan konten yang berkualitas tinggi, pengurangan yang terjadi akan
mempengaruhi kualitas layanan.
Ketiga, service aware edge, bagian ini bertanggung jawab terhadap delivery layanan sebagai sebuah servis
yang mempunyai kualitas tertentu. Bagian inilah yang secara revolusioner merubah internet IPTV/VoD
menjadi murni layanan IPTV dan VoD, karena kualitas servis dideliver di bagian ini.
Keempat, service network, bagian ini memastikan data-data yang merupakan bagian utama dari layanan
2/3
dapat dihantarkan ke tempat-tempat/lokasi yang berada jauh dari NOC (Network Operation Centre, Kantor
Pusat penyedia layanan) secara baik dan terjaga kualitasnya.

os3.telkom.co.id

OS3.telkom.co.id

Selasa, 14 April 2009

speedybandung

just InFo & kNowlEDgE

Rabu, 23 April 2008

Tuhan memberi kita dua kaki untuk berjalan,
dua tangan untuk memegang,
dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat.
Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita?
Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagihati pada seseorang untuk kita mencarinya.
Itulah namanya Cinta.

Minggu, 20 April 2008

aRsiTektUR ru@nGAn BCC



HoW dO U tH!nK aB0uT neW BCC oFfIcE....???????


Sabtu, 19 April 2008

h a F z m A

paaN tUh .....?????

261107